Delikfakta.com, SULUT – Para petani di wilayah Kecamatan Dumoga Utara dan Dumoga Tenggara kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) mengeluhkan sejumlah titik saluran irigasi di desa Toraut Jebol.

Petani mengaku beberapa titik saluran yang irigasi yang jebol itu, butuh penanganan cepat sebab akan mengancam pasokan air akan putus ke lahan petani sawah. Jika tidak segera diperbaiki, maka akan mengancam pasokan air masuk ke lahan pertanian sawah di wilayah Kecamatan Dumoga Utara dan Dumoga Tenggara.

Menariknya, keluhan petani ini sudah beberapa bulan ini berjalan belum ada perhatian dari intansi yang terkait. Apabila tidak segera diperbaiki akan mengancam hasil pertanian gagal panen di wilayah dumoga yang menjadi lumbungnya beras Sulawesi Utara dan terkhusus Bolmong.

“Jika tidak segera diperbaiki, ratusan hektare sawah di dumoga bisa terancam gagal panen. Kami harap pemerintah, khususnya Balai Wilayah Sungai, segera mengambil langkah cepat,” kata salah seorang petani di dumoga.

Tak hanya itu, para petani wilayah setempat juga menyoroti sulitnya menyampaikan laporan kepada Kepala daerah Pengairan (KDP). Alasan penjaga Bendungan KDP tidak berada dilokasi.

Petani pun menyadari bahwa kewenangan pemeliharaan jaringan irigasi berada di instansi teknis terkait. Namun, mereka menilai kehadiran KDP tetap dibutuhkan sebagai penghubung antara petani dan pemerintah ketika muncul persoalan di lapangan.

“Kami bingung harus melapor kepada siapa. Sudah beberapa bulan komunikasi dengan petani juga nyaris tidak ada. Kami bingung siapa sebenarnya KDP D.I Toraut, karena menurut keterangan juru, beliau sering berada di Manado,” ungkap seorang petani.

Atas kondisi tersebut, sejumlah petani meminta Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) Sulawesi Utara, Rommy Rukson Tungkelos, untuk mengevaluasi keberadaan serta kinerja petugas yang bertanggung jawab di Daerah Irigasi Toraut.

Menanggapi hal itu, Kepala Daerah Pengairan (KDP) Irigasi Torout, Jefri Rori, ST, membantah anggapan bahwa dirinya jarang berada di lapangan atau tidak pernah bertemu dengan petani.

“Kalau dibilang tidak pernah bertemu petani itu tidak benar. Minggu lalu saja saya masih melakukan pertemuan dengan mereka,” ujar Jefri saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, tugas KDP lebih berfokus pada pemantauan debit air dan pengaturan pembagian air kepada petani. Sementara itu, urusan operasional jaringan irigasi berada di bawah Balai Wilayah Sungai, sedangkan pemeliharaan saat ini dilaksanakan oleh Tenaga Pendamping Operasi dan Pemeliharaan (TPOP) dari dinas terkait.

Mengenai saluran yang jebol, Jefri mengatakan penanganan darurat sebenarnya telah dilakukan oleh TPOP pada bulan lalu. Namun, perbaikan tersebut kembali mengalami kerusakan.

“Saluran darurat yang sudah diperbaiki jebol lagi karena ada oknum yang menaikkan muka air, sehingga terjadi overtopping dan air melimpas keluar dari saluran,” jelasnya.

Jefri juga menyampaikan permohonan maaf kepada para petani atas ketidaknyamanan yang terjadi. Menurutnya, pihaknya telah berkoordinasi dengan TPOP untuk percepatan penanganan.

Selain itu, kata dia, konsultan teknis saat ini tengah melakukan kajian terhadap kondisi bangunan irigasi yang rusak, termasuk menghitung kebutuhan volume pekerjaan sebagai dasar perbaikan permanen.

“Sementara proses kajian berjalan, penanganan darurat akan secepatnya dilaksanakan oleh TPOP agar aliran air ke lahan pertanian tetap bisa dipertahankan,” ujarnya. 

Para petani berharap koordinasi yang telah dilakukan segera diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan. Mereka meminta perbaikan dilakukan sesegera mungkin agar pasokan air kembali normal dan ancaman gagal panen dapat dihindari. Apalagi bolmong lumbung beras dan lokasi sebagai penopang beras ada di wilayah dumoga. (Yono).