Delikfakta.com,  Bolmong  – Belum genap setahun dikerjakan pembangunan jalan usaha tani (JUT) di desa Langagon,  Kecamatan Bolaang nampak rusak parah. Proyek yang dibangun melalui Dinas Perkebunan Bolaang Mongondow (Bolmong) tahun anggaran 2025, dengan dua item paket jalan masing – masing anggaran senilai Rp187 juta berlokasi di dusun 1 – 2,  dan satu paket proyek dengan nilai anggaran Rp177 juta lokasi Dusun 4 desa Langagon.  Menariknya, dalam papan proyek tidak mencantumkan nama pelaksana pekerjaan pembangunan JUT desa setempat.

Warga Mengaku kecewa dengan kualitas pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor, yang tidak jelas siapa pelaksana proyek tersebut. Ini seperti diungkapkan RS warga setempat.

“Banyak warga yang Mengeluhkan kondisi jalan rusak, dan material yang berserahkan,” kata RS. Hal ini menurutnya sangat membahayakan para petani yang mengangkut hasil panennya. Ini bahkan  beresiko terhadap kecelakaan akibat jalan rusak, padahal jalan itu belum Setahun dikerjakan diperkirakan akhir tahun lalu.
RS meminta kepada dinas yang terkait untuk memperbaiki jalan rusak tersebut.

Nampak Julkifly Paputungan Pemerhati Kebijakan Publik Bolmong, saat turun dilokasi proyek di desa Langagon, Kecamatan Bolaang.

“Kami melihat proyek jalan itu dikerjakan asal jadi hanya untuk mencari keuntungan tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan, ” ujar RS.

RS pun mengatakan, jika pekerjaan jalan hanya memperparah kondisi jalan petani setempat,  maka awal pekerjaan pembangunan JUT di Setop warga.

“Ini jelas kualitas pekerjaan proyek pembangunan JUT sangat tidak bagus, dan tambah memperparah kondisi jalan sebelumnya, ” keluhnya.

Sementara Pemerhati Kebijakan Publik Bolmong Julkifly Paputungan, meminta  pelaksana proyek untuk di audit pekerjaan oleh internal pemerintah daerah. Karena pelaksanaan proyek yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2025.

“Saya sudah turun dilokasi proyek ternyata memang kondisi jalan perkebunan sangat rusak parah dan membahayakan para petani, ” imbuhnya.

Kata dia,  pekerjaan jalan tidak dilakukan pemadatan berupa menggunakan alat berat stom atau roller. Sehingga jalan yang baru dikerjakan akhir tahun lalu itu gampang rusak sebab tidak ada pemadatan.

“Guna alat berat roller adalah untuk meratakan permukaan tanah atau kerikil agar padat  dan kokoh. Ini kami lihat hanya disiram dengan material kerikil jadi ketika dilintasi kendaraan saja sudah rusak. Apalagi datang hujan, ” kata Julkifly,  yang dikenal sangat intens  lakukan pengawasan terhadap program pemerintah. 

Ia bahkan dalam waktu dekat ini akan melaporkan hal ini kepada aparat penegak hukum (APH).

“Ada beberapa proyek di bolmong yang diduga bermasalah akan saya laporkan ke Polres Bolmong dan Kejari Kotamobagu, ” tandas Julkifly.

Dihubungi Kepala Dinas Perkebunan Bolmong Abdul Latif mengaku akan menyurat ke pihak pelaksana CV Kurnia Tatindo. Ia berkata, masih ada tahap pemeliharaan proyek selama 6 bulan kedepan.

“Saya akan minta kontraktornya untuk diperbaiki nanti saya akan panggil pelaksananya CV Kurnia Tatindo,” tandasnya. (Tim).